Berhadapan dengan puisi FARUK TRIPOLI berjudul
MAKA HIDUP PUN ABADI di malam yang hening, saya serupa diajak
mengembara ke alam semesta tepatnya merenungi kembali gejala alam.
Merenungi daun yang jatuh atau merenungi kibas sayap burung yang
kemudian mendarat kembali.
Membaca bait pertama Faruk Tripoli saya seakan mendapat isyarat
dalam daun yang jatuh atau dalam kibas burung yang mendarat kembali,
perihal kehidupan yang tak abadi.
Latar suasana yang terdapat dalam puisi Faruk menuntun saya
merenungi muasal kehidupan. Saya pun teringat penolakan iblis yang tak
mau mengakui manusia sebagai pemimpin di bumi dikarenakan iblis merasa
lebih sempurna dari manusia, iblis yang tercipta dari api tak mau tunduk
pada manusia yang tercipta dari tanah, berikut latar suasana yang
dibangun Faruk Tripoli.
apa artinya daun jatuh
atau sekedar kibas sayap burung
lalu mendarat kembali
dalam hening
dalam dingin
tanah lembab
lalu mengendap
begitu perlahan
Jadi tanah adalah muasal kehidupan manusia, benarkah manusia
tercipta dari tanah? Mempertanyakan sesuatu yang tak rasional adalah
watak dasar manusia, oleh sebab itu dalam surat al-baqoroh kita sangat
dianjurkan mengimani yang ghaib itu ada, yang tak rasional itu benar
adanya, paling tidak ketika kita menggosok kulit berkali-kali lalu
menciumnya maka aroma tanah begitu akrab, ini bukti bahwa tanah tak
terpisahkan dari diri kita sebab tanah punya hubungan erat dengan kita
jadi benarlah muasal manusia tercipta dari tanah.
Lalu penyair mulai mengurai tentang keadaan kita yang selalu berada
dalam perangkap senyap. Akhir cerita dari hidup berujung pada kematian
dan kematian identik dengan kesenyapan, seperti yang dikabarkan penyair
di bait keduanya.
seperti akhir cerita
selalu memerangkap kita
dalam senyap
membuat sesaat terlelap
sebelum kicauan burung hinggap di daun telinga
lalu merayap
dengan rangkaian gerbong dan getaran suara
apa saya
Rupanya Faruk tak hendak berlama-lama dalam senyap, bait ketiga ia
sajikan untuk menggambarkan hidup di masa muda, hidup yang penuh
semangat, penuh rasa penasaran, gambaran bait ketiga barangkali bisa
lebih bermanfaat bagi yang hidup, seumpama talqin yang dibacakan di
sekitar kuburan dan didengarkan telinga-telinga yang berada di sekitar
makam untuk mendapatkan pelajaran kehidupan yang lebih baik.
lalu cahaya
mengasah pucuk pohon
dan kita pun berloncatan
ke tengah cerita
masa-masa muda yang bergelora
untuk berselancar
di atasnya
Barangkali pula bait ketiga mengisahkan keadaan yang dialami mayat
di dalam kubur, mendapat cahaya bagi yang melakukan kebaikan semasa
hidup, mendapat keriangan seperti saat masih muda, segala praduga ini
bisa saja mengandung kebenaran.
Bukankah cahaya, atau tempat yang lapang juga merupakan hadiah atas
amal baik bagi manusia yang telah wafat. Bukankah alam kubur adalah
miniatur bahagia atau duka yang akan didapat oleh manusia yang telah
meninggal bergantung amal perbuatan.
Lalu bait keempat penyair Faruk Tripoli mencoba menguak watak dasar
manusia yang pelupa, yang buta (nurani yang tertutup lantaran belum
dapat hidayah), mati rasa (melukiskan keadaan mayat) yang tak lagi
merasakan perjuangan untuk meraih segala yang diinginkan.
dan lupa
dan buta
dan mati rasa
begitu tak menyangka
dari bawah kubur daun-daun itu
dari dingin tanah basah yang senyap
sebuah tunas yang menggeliat
merangkai jalan cerita
agar berderap ke akhir
yang sama
Kematian adalah penanda bahwa hidup telah berakhir, bahwa perjuangan
telah berakhir bahwa yang bisa menolong hanyalah amal perbuatan yang
baik meliputi sedekah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang
mendoakan orang tua.
Gambaran cerita akhir yang sama yang coba dikuak oleh Faruk Tripoli,
betapa bait keempat tiap manusia memiliki akhir cerita yang sama dalam
kubur yakni menunggu keajaiban yang lahir dari 3 perkara yang tak
terputus amalnya. Dengan kata lain akhir yang sama merupakan gambaran
bahwa kubur tempat penantian sebelum kita mendapatkan hadiah surga atau
neraka atas amal yang kita lakukan semasa hidup.
karena kematian
sekedar jembatan yang sama
bagi abadi hidup selanjutnya
dan kebangkitan tak akan pernah lama
terjadi di tahun ketiga
setelah tahlil berakhir
setelah semua orang lupa
dan kembali bahagia
Adalah hal yang tak bisa disangkal bahwa kematian adalah jembatan
fana bagi kehidupan selanjutnya, hidup yang diperoleh selepas kematian
yakni kebangkitan.
Selepas mati manusia akan dihidupkan kembali menuju kehidupan yang
lebih abadi, kehidupan yang akan mendapat balasan yang layak atas
perbuatan semasa hidup.
Maka saya mendapatkan jawaban yang kongkrit atas judul puisi MAKA
HIDUP PUN ABADI dinisbatkan pada kebangkitan selepas kita mati. Hidup
abadi di surga atau neraka itulah yang akan dialami tiap manusia.
Bait pamungkas Faruk tak hanya mengurai yang dialami manusia selepas
mati, melainkan juga membahas kebiasan yang dilakukan manusia yang
masih hidup menyikapi kenalan atau kerabat yang telah mati yakni
melupakan kesedihan dan kembali bahagia.
Madura, 13 Mei 2014
foto faruk tripoli yang karyanya menjadi bahan pembahasan esai apresiatif