SELAMAT DATANG TO MY
Rumah karya moh. ghufron cholid, anda bisa bertamasya sambil membaca semua karya dan bisa mengomentarinya dengan penuh perenungan dan berdasar selera masing-masing. Jangan lupa ngisi data kehadiran.Ok!

Minggu, 10 Mei 2015

MENGURAI KECEMASAN PENYAIR DALAM MENERJEMAHKAN HIDUP



Rahma Bachmid
TITIK HITAM MEMERAH


Malam kujemput dilipatan bergerigi
pada tulang-tulang rahang yang menggigit
kuletakkan segala asa bercampur gelisah
berharap pagi kusapa dengan hangat
bukan dengan jari jemari yang terbentur luntur
dan dinginnya dinding menyentuh bul-bul

Malam pun jatuh di kursi sepi
bait-bait ini membawaku tenggelam
tersimpan anak sungai di bibir yang mendesir
embun pun jatuh
perlahan-lahan menelusuri rongga menyentuh alteri
dingin melumat
yang mana hitam dan mana merah
dapatkah kumerabahnya
hari-hari terjepit di antara tiga jembatan
di sana pun ada titik hitam memerah
April, 2015

Saya terus saja membayangkan rupa titik hitam memerah yang diperkenalkan oleh rahma bachmid, saya belum mendapatkan apa-apa dari pesan yang disampaikan maka saya pun mengambil langkah untuk lebih akrab denfan tiga kata yang diperkenalkan di judul.

Titik merupakan sebuah penanda bahwa tak ada lagi perjalanan kalimat sebab ianya telah mencapai pada inti pembahasan. hitam sering diidentikkan dengan warna yang mengandung kekuatan magic. Saya kembali mengakrabi kata-kata hitam memerah, saya ingin memperoleh sebuah bayangan yang kelak membawa saya pada petunjuk, apakah gerangan yang hendak ditegaskan penyair dengan menghadirkan judul titik hitam memerah? memerah merupakan suatu situasi yang menjadikan sesuatu tampak merah. warna merah sering diidentikkan dengan warna darah yang artinya berani maka hitam memerah bisa disimpulkan kekuatan magic yang membuat seseorang tambah memiliki keberanian. Namun jika ditulis utuh titik hitam merah bisa diartikan penanda akhir dari sebuah kekuatan yang membuat seseorang semakin tampak berani. 

Kesimpulan ini didasarkan pada tafsiran bebas sebelum saya benar-benar masuk pada dunia pemikiran yang telah dihadirkan oleh rahma bachmid, dalam puisinya yang dipetakkan hanya pada dua bagian pemikiran yang disematkan dalam dua bait yang ada.

Bait pertama adalah lukisan kegetiran yang penuh harap. ada semacam ketakutan yang begitu menguasai diri namun di sisi lain penyair mencoba bangkit mengusir kegelisahan dengan terus menanamkan harapan dalam dada. 

Kegetiran adalah keadaan jiwa yang mengantarkan seseorang pada pemahaman pada dasarnya rasa takut bersarang dalam kalbu oleh ianya menimbulkan rasa getir sebagai penegasan bahwa sejatinya manusia di samping memiliki keberanian juga memiliki ketakutan. Kegetiran yang memuncak paling tidak bisa dikurangi getarannya dengan merawat harapan secara telaten dan sabar, sebab harapan adalah sebuah titik untuk membangkitkan percaya diri dan menepis putus-asa. 

Dalam harapan yang diperkenalkan penyair di bait pertama juga bermukim ketakutan yang ianya coba diusir walaupun tipis kemungkinan tentang keberhasilan yang kelak dicapai. Berharap pagi kusapa dengan hangat, paling tidak larik ini adalah upaya untuk menumbuhkan keyakinan dalam diri tentang akan adanya masa bahagia di masa mendatang walau sangat tipis kemungkinan bahagia yang akan digenggam. 

Hidup selalu dipenuhi dengan harapan baik yang ingin diraih juga kekhawatiran yang begitu mendalam, yang kehadirannya sangat tidak diinginkan, harapan buruk yang tak ingin bertamu diungkap oleh penyair pada larik-larik, bukan dengan jari jemari yang terbentur luntur dan dindingnya dinding yang menyentuh bul-bul.

Bait pertama mengungkap latar suasana juga mengungkap bahwa sejatinya harap terbagi atas dua jenis yakni harapan yang mengandung unsur optimis dan harapan yang mengandung unsur ketakutan yang kehadirannya tak diinginkan. Penggambaran tentang suasana malam semakin menguat di bait kedua yang dihadirkan oleh penyair Rahma Bachmid,
Malam pun jatuh di kursi sepi
bait-bait ini membawaku tenggelam
tersimpan anak sungai di bibir yang mendesir
embun pun jatuh
perlahan-lahan menelusuri rongga menyentuh alteri
dingin melumat
yang mana hitam dan mana merah
dapatkah kumerabahnya
hari-hari terjepit di antara tiga jembatan
di sana pun ada titik hitam memerah


Sepi adalah penguat suasana malam, begitupun dengan diksi tenggelam. Dingin melumat adalah ciri yang dimiliki oleh malam. Dalam suasana sepi dan dingin yang mengergap, tentu seseorang kadang tak bisa membedakan mana hitam dan mana merah, mengapa? Karena konsentrasi manusia terpecah di saat serangan begitu intim hadir dan tak memberikan waktu yang leluasa untuk berfikir. 

Bait kedua menjadi penguat efek yang ditimbulkan oleh bait pertama, bahwa dalam suasana yang serba terjepit yang bisa dilakukan manusia hanyalah mengeluh dan mengeluh sebagai tanda ketakmampuan dan ketakberdayaan. 

Saya pun memelankan laju baca dan membaca berulang ulang dua larik berikut, hari-hari terjepit di antara tiga jembatan/di sana pun ada titik hitam memerah// saya semacam kehilangan pintu masuk untuk lebih memahami pesan yang akan disampaikan penyair. Saya dikepung rasa penasaran apa gerangan yang dimaksud tiga jembatan? Adakah ianya sebuah pilihan dalam menentukan keyakinan untuk menaklukkan sebuah permasalahan, yang jika diterjemahkan secara bebas bisa bermakna dalam menyikapi masalah manusia terbagai atas tiga golongan ada yang menganggap permasalahan tersebut sangat serius sehingga memerlukan penangan khusus untuk memecahkan, sementara golongan kedua menganggapnya penting untuk direspon atau tak diresponpun tak mengapa karena tak dapat member kemudlaratan. Golongan ketiga menganggap permasalahan yang dialami sangat ringat sehingga tak perlu dipikirkan atau dengan artian lupakan masalah yang ada. 

/Di sana pun ada titik hitam memerah// membaca larik ini secara berulang saya seakan dibawa dalam sebuah ruang pengap oleh penyair yang di dalamnya tak ada cahaya, yang ada hanyalah kesuraman seakan penyair ingin menegaskan pengarus buruk sudah semakin kuat. 

Kalau titik hitam memerah dibawa dalam dunia supranatural di mana kekuatan hanya dipahami ada dua macam yakni kekuatan ilmu putih (ilmu yang memancarkan kebaikan) dan ilmu hitam (ilmu yang membawa pengaruh buruk) maka bisa dipastikan sejatinya penyair dari dalam jerit nuraninya mengabarkan bahwa kekuatan buruk sudah semakin kuat. Titik hitam memerah. 

Madura, 10 Mei 2015



Minggu, 19 April 2015

MENGGAMBAR RUMAH PENYAIR DAN CARA MENAKLUKKAN KEMELUT


Oleh Moh. Ghufron Cholid

HARI MINGGU DI RUMAHKU, kata aziz zabidi memperkenalkan buah hati imajinasinya. aziz seakan ingin menghadirkan hari minggu yang tak biasa di rumahnya. hari minggu yang semestinya diisi dengan menghentikan segenap aktivitas baik berupa tugas kantor, atau tugas lain yang selalu menyita waktu. tampaknya aziz menghendaki rupa yang lain, yang barangk
li lepas dalam pandang namun akrab dalam keseharian. menghadirkan rupa rumah dengan ragam kemelut juga hiburan. ada baiknya kita akan saya posting utuh puisinya agar bisa dinikmati daya imajinasibpenyair negeri seberang, yakni penyair malaysia bernama aziz zabidi,

HARI MINGGU DI RUMAHKU 


Sepatutnya hari ini tingkap rumahku dibuka, cahaya
panas matahari mungkin akan matikan mimpi semalam
yang masih berlegar di ruang tamu. Tapi entah kerana
ekonomi yang tidak menentu atau kerana ramalan
tukang tilik di siaran tv, aku langsung mengunci tingkap
dan biarkan langsir menggelap.

Di dapur, cerek dan kuali berbunyi-bunyi, minta
perhatian akan menu yang patut kutulis, seeloknya
harus ada cili, kentang dan mungkin mentega. Resepi
paling baik adalah sajak-sajak pengubat duka yang siap
terhidang di meja.

Oh, begitu rumahku bernyanyi pula, muzik pop mariah
carey dan mathanawi rumi. Ada juga okestra metallica
dan blues dari tanah yang jauh. Aku hanya memegang
gitar, merakam fotonya. Ada sesuatu tentang bunyi,
yang membuat rumahku menyimpan kesedihan diubun-
ubunnya.

Sebentar kusedari, ada juga bau mayat di ruang baca.
Mungkin nietzche telah mati sebelum tuhannya, atau
hallaj berpulang meminta nyawa. Tak perlu peduli,
hanya biarkan buku-buku berdebu, dan biarkan juga
cakarewala terus berputar pada paksinya.

Oh, mungkin aku patut diam dan biarkan saja pesta hari
minggu bermula.

aziz zabidi
april 2015

puisi ini berhenis naratif dengan ide yang mebgalir dan terdiri dari lima bait. aziz hendak mengungkap ragam kegiatan yang terjadi dalam rumah yang dalam hal ini bisa saja rumah penyair sendiri, bisa pula rumah yang ada dalam imajinasinya.
aziz zabidi mulai menuturkan pandangannya, tentang latar suasana yang lumrah terjadi di sebuah rumah, yang penghuninya disibukkan dengan kegiatan sebelum hari minggu sehingga berimbas pada minggu yang malas,
Sepatutnya hari ini tingkap rumahku dibuka, cahaya
panas matahari mungkin akan matikan mimpi semalam
yang masih berlegar di ruang tamu. Tapi entah kerana
ekonomi yang tidak menentu atau kerana ramalan
tukang tilik di siaran tv, aku langsung mengunci tingkap
dan biarkan langsir menggelap.
beraktivitas terlalu malam akan berdampak pada kegiatan pagi, yang masih terasa sulit untuk bergerak. pagi yang seharusnya dinikmati kehadirannya dengan riang gembira lantaran panorama pagi yang indah, tak bisa dinikmati dengan kata lain penghuni rumah enggan bergerak karena dikuasai kantuk kalau tak mau dikata malas beranktivitas.
Bisa juga bait pertama hendak menegaskan bahwa pada hakekatnya manusia yang dipenuhi ragam pikiran yang menyesakkan dada, cendrung memilih diam dan menjadikan padi raib dalam pelukan mimpi.
Dapur bagian terpenting dari sebuah rumah dan ini pulalah yang tak lepas dari sorotan aziz zabidi, semalas apapun manusia untuk beraktivitas, memperhatikan dapur adalah hal yang akan melekat dalam ingatan, sebab dari dapur bisa ditemukan energi yang membuat manusia untuk bergerak melawan malas.
tampaknya aziz sangat mengenal urusan dapur sehingga pendeskriptifan tentang dapur sangat mengena. Namun ada yang ingin ditampilkan berbeda oleh aziz zabidi bahwa yang membedakan rumah penyair dengan rumah bukan penyair adalah terhidangnya sajak-sajak pengubat duka, berikut penuturan aziz di bait keduanya,
Di dapur, cerek dan kuali berbunyi-bunyi, minta
perhatian akan menu yang patut kutulis, seeloknya
harus ada cili, kentang dan mungkin mentega. Resepi
paling baik adalah sajak-sajak pengubat duka yang siap
terhidang di meja.
Namun kendati rumah penyair berbeda dengan rumah kebanyakan, zabidi tak lupa pada kodratnya bahwa sejatinya penyair juga manusia, meski ada perbedaan mencolok namun masih memiliki persamaan yang tak bisavdibafikan, berikut penuturan aziz zabidi,
Oh, begitu rumahku bernyanyi pula, muzik pop mariah
carey dan mathanawi rumi. Ada juga okestra metallica
dan blues dari tanah yang jauh. Aku hanya memegang
gitar, merakam fotonya. Ada sesuatu tentang bunyi,
yang membuat rumahku menyimpan kesedihan diubun-
ubunnya.
azibi hendak menegaskan dalam hidup tak hanya berisi sukacita, duka pun juga akan dialami oleh tiap manusia yang menghuni rumah. peristiwa sunnatullah juga diungkap bahwa penyair juga memiliki kenangan sedih dengan rumah yang telah dihuninya, penuturan ini sangat tampak dalam diksi-diksi berikut, rumahku menyimpan kesedihan di ubun-ubunnya.
Dalam bait selanjutnya aziz zabidi memotret ragam peristiwa yang bisa terjadi dalam tiap rumah, bahwa ingatan penghuninya bisa menjangkau masa lampau, mencium bau hikmah dari peristiwa yang dialami oleh seseorang untuk dijadikan cermin, berikut penuturan aziz zabidi,
Sebentar kusedari, ada juga bau mayat di ruang baca.
Mungkin nietzche telah mati sebelum tuhannya, atau hallaj berpulang meminta nyawa. Tak perlu peduli, hanya biarkan buku-buku berdebu, dan biarkan juga cakarewala terus berputar pada paksinya.
kematian seseorang bisa jadi gambaran buat orang lain dan tambahan referensi dalam menjalani hidup ke arah yang lebih baik, permisalan kematiab orang lain bolehlah dijadikan cermin namun tak boleh terlalu larut dalam,kepedihan dan ketakutan, solusi yang ditawarkan aziz zabidi berada dalam diksi-diksi berikut, biarkan juga cakarewala terus berputar pada paksinya, dengan artian kita harys menjalani hidup secara wajar, tak boleh larut dalam ketakutan sebab sejatinya roda hidup terus berputar.
Akhirnya aziz zabidi berada pada puncak kesadaran bahwa sejatinya untuk keluar dari kemelut dan kalut atau keluar dari titik jenuh adakalanya manusia butuh hiburan untuk menormalkan otot-otot yang telah lama menegang, aziz zabidin pun berucap,
Oh, mungkin aku patut diam dan biarkan saja pesta hari
minggu bermula.
Ada dua solusi yabg ditawarkan untuk nengusir duka lara yakni diam dan menikmati hari libur dengan riang.
Madura, 17 April 2015

SHIRLEY DALAM IRAMA KEPEDIHAN

Oleh Moh. Ghufron Cholid*
DI MAKAM NAIM

Untaian kata berbulir belangsungkawa
air mata luluh menembus cakrawala
dalam hening mengitari
harumnya zikir bertasbih
menyanyat-nyayat jiwa
sebermula kata bicara

Naim...
di makammu terlakar cita dan harapan
menutupi tiap tangis kesunyatan
menabiri kekinian
menjadi inti diri
terlukis mematri di akhir goresan.

Naim...
dalam lirih lepas nafas
dikau memberi sejuta harapan
biar raga dan ruhmu
melayang ke Negeri Abadi
menuntas dunia depan yang jauh
mengapai derajat tertinggi di sisi Khalik.

Selamat jalan Naim
tenang dan damailah di sana
biar angin menguraikan udaramu
saatnya aku akan berpulang jua.

Puisi mengenang Almarhum Cikgu Mohammad Naim
Daipi
( 27/6/1950 - 13/4/2015 )

Shirley Idris
Sinar Bukit Dumbar,
14042015

DI MAKAM NAIM adalah judul yang dipilih shirley untuk menggambar betapa pedih penyair serumpun karena kehilangan sosok guru sekaligus sahabat dalam kembara bahasa, NAIM adalah sebutan akrab buat alm. mohamed naim daipi yang wafat pada 13 april 2015.

Latar suasana pedih sangat terasa di bait pertama. hal ini bisa dimaklumi kedekatan emosional kreator dengan naim tak hanya perkenalan lewat karya bahkan terjalin secara tatap muka jika menghayati bait pertama.

Manusia adalah cerita bagi generasi berikutnya#maka jadilah cerita yang baik bagi yang ditinggalkan. tampaknya Naim dalam pandangan shirley telah menjadi hasanan liman wa'a (cerita yang baik bagi generasi yang ditinggalkan). Kesan tersebut sangat jelas di bait pertama.

Rasa kehilangan rupanya tak cukup hanya mengungkap kepedihan maka ada sikap yang hendak ditampakkan oleh shirleydi bait keduanya,

Naim...
di makammu terlakar cita dan harapan
menutupi tiap tangis kesunyatan
menabiri kekinian
menjadi inti diri
terlukis mematri di akhir goresan.

Nisan orang baik selalu menjadi penanda yang baik. Bisa dipahami sejatinya yang meninggal hanyalah jasad sementara cita dan harapan masih bisa dilacak dan dirasakan kehadiran lewat pemikiran yang ditinggalkan.

Nisan orang yang baik bisa menjadi cermin bagi orang yang hidup, cermin untuk berlomba menjadi yang terbaik. Barangkali inilah yang henak disampaikan shirley di bait kedua.

Shirley tak puas hanya mebjadikan nisannaim sebagai cermin untuk menjadi probadi yang lebih baik maka di bait ketiga Shirley semacam meegaskan kesaksian bahwa naim adalah sosok yang baik,
Naim...
dalam lirih lepas nafas
dikau memberi sejuta harapan
biar raga dan ruhmu
melayang ke Negeri Abadi
menuntas dunia depan yang jauh
mengapai derajat tertinggi di sisi Khalik.

Kematian adalah peristiwa yang pasti yang terjadi maka mempersiapkan bekalyang baik adalah yang harus dilakukan tiap insan, apa yang dilakukan naim adalah upaya mendapat maqam tertinggi di sisi sang khalik.

Bait pamungkas menunjukkan shirley telah sampai pada puncak kesadaran bahwa sejatinya hidup adalah kembara menuju kematian dan kepulangan seseorang merupakan penanda untuk kepulangan bagi yang lain atau menunggu antrian.

Menginsafi kematian adalah jalan yang akan ditempuh tiap insan maka mengatakan selamat jalan adalah langkah terbaik yang ditempuh shirley. Melepas kepergian sosok yang istimewa dalam hidup dengan penuh kesadaran adalah bagian dari jalan ikhlas yang mau tak mau akan dijalani tiap insan.

TEMA YANG DIANGKAT
KEMATIAN adalah tema yang diangkat shirley dalam puisinya kali ini. "Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah" dalam firman yang lain, "Tiap jiwa akan mengalami kematian".

Apa yang hendak dihadirkan shirley dengan mengangkat tema kematian? barangkali shirley hendak mencubit hatinya dan kita selaku pembaca bahwa sejatinya kita akanmati, dengan mengingat tentulah menepuk dada atas segala keberhasilan atau terlampau berduka atas segala yang hilang dari kita tentu takkn pernah terjadi, kalaupun harus terjadi tentulah takkan terjadi secara berlebihan.

Kematian tak terduga yang erjadi pada seseorang barangkali menjadi semacam rambu bahwa sejatinya tak ada yang benarbenar mampu menebak.secara pasti kapan kematian datang menjemput sehingga meerjemahkan usia dengan hatihati dan penuh kesadaran adala pilihan yang akan dambil untuk menjadi pribadi yang lebih unggul.

Madura, 14 April 2015
*Pendiri Pesantren Penyair Nusantara di FB, menulis puisi, pantun, cerpen dan esai, terbit dalam antologi bersama baik di dalam dan luar negeri, sempat membacakan beberapa puisinya di Kongres Penyair Sedunia ke-33 di Ipoh Malaysia, menetap di Madura.

Selasa, 03 Februari 2015

TIGA PUISI TERBIT DI UTUSAN BORNEO MALAYSIA 1 FEBRUARI 2015


PERJALANAN AIRMATA
: Tragedi AirAsia

ia yang menjemput cita
pulang berkerudung airmata

ia yang teguh genggam yakin
pulang membawa buah pengabdian

Madura, 2015

MENCARI LEZAT IMAN

antara impian dan kematian
bermukim keberkahan

antara doa dan perjuangan
menetap lezat iman

Madura, 2015

PANGKALANBUN

cinta menemukan rupa
doa

Madura, 2015

Jumat, 26 Desember 2014

TIGA PUISI TERBIT DI SASTRA HARIAN CAKRAWALA MAKASAR (27 DESEMBER 2014)

HELENA DAN PUISI
Helena sebab puisi
Lagu paling sepi
Beningkan hati
diksi-diksi perkenalkan diri
bunga-bunga api
melahap nyeri
2014
MENGENANG ACEH DALAM TSUNAMI
aceh dalam tsunami
airmata yang tak henti mencari
letak Ilahi
2014
PANGGIL AKU IBU
ketika tak ada
yang tersayat
saat kau bermata duka
panggil aku ibu
setia memalingkan mata ragu
dari kerling mata waktu
2014

Senin, 08 Desember 2014

KONGRES MENYATUKAN PENYAIR (TERBIT DI UTUSAN MALAYSIA,10 NOVEMBER 2013)




Pemangku Raja Perak,Raja Dr. Nazrin Shah bersalaman dengan para delegasi ketika merasmikan majlis penutup Kongres Penyair Sedunia ke-33 di Arena Square, Pulau Pangkor, Perak.
KONGRES Penyair Sedunia (WCP) ke-33 yang julung kali diadakan di negara ini menyaksikan penyertaan lebih 200 penyair dari 32 negara. Ini satu catatan bersejarah bagi acara tahun yang menjangkau kali ke 33.
Acara anjuran Akademi Seni dan Budaya Dunia (WAAC) dengan kerjasama Institut Darul Ridzuan (IDR) dan kerajaan negeri Perak berlangsung selama enam hari sejak 21 Oktober di Ipoh dan Pulau Pangkor.
Kongres tersebut diakhiri dengan malam gala WCP yang gemilang-gemilang dengan kehadiran lebih 2,000 tetamu. Acara itu diserikan lagi dengan keberangkatan Pemangku Raja Perak, Raja Dr. Nazrin Shah dan Raja Puan Besar Perak, Tuanku Zara Salim.
Kongres puisi ini secara tidak langsung menonjolkan nama Malaysia sebagai negara yang bukan sahaja berkembang maju dari aspek fizikal malah turut membangun kegiatan kebudayaan dan kesusasteraan. Acara pertama di negara ini meninggalkan kenangan manis kepada para peserta untuk melihat sendiri pembangunan Malaysia dan kegiatan kesusasteraannya.
Sebelum ini Malaysia telah banyak kali berjaya sebagai penganjur acara bertaraf antarabangsa, tidak kira sama ada dalam bidang sukan, persidangan Islam dan juga ekonomi. Kini bertambah satu lagi pencapaian Malaysia dalam kesusasteraan.
Menghimpunkan penyair-penyair besar dari seluruh dunia bukan suatu yang mudah. Tetapi kesungguhan penganjur untuk menonjolkan nama Malaysia dalam bidang kesusasteraan akhirnya dibuktikan dengan hasil daripada acara ini.
Penyelaras WCP, Malim Ghozali PK berkata, selain menjadi penganjuran terbaik, objektif WCP kali ini adalah mewujudkan pertembungan serta pertukaran fikiran antara para penyair tempatan dan luar negara.
"Kita dapat satu peluang yang besar dalam penganjuran WCP di sini. Selain dapat memperaga dan mempersembahkan karya-karya terbaik kita kepada orang luar, pertukaran karya-karya juga dapat dilakukan," demikian tegas Malim yang juga seorang penyair tersohor negara ini.
Baginya, sekiranya mahu karya kita dikenali di peringkat antarabangsa, ini adalah salah satu daripada pendekatannya. Penganjuran WCP memperlihatkan kesannya apabila karya-karya kita yang selama ini banyak berlegar di dalam negara sudah dapat menjengah ke dunia antarabangsa.
Malim percaya karya tempatan yang dibawa ke luar negara dan akan dibaca di sana, bukan itu sahaja karya tempatan kita akan diterjemahkan dalam lain-lain bahasa dan malah akan menjadi sasterawan antarabangsa.
Selain itu, penganjuran WCP ini juga dilihat turut berjaya mencapai matlamat untuk menyuburkan persaudaraan dan keamanan sedunia melalui syair dan puisi.
Bertemakan Satu Dunia Menerusi Puisi, kongres ini yang berjaya mengumpulkan lebih lebih ramai orang penyair daripada penganjuran sebelumnya itu mencatatkan sejarah sebagai acara antarabangsa paling banyak disertai oleh negara luar yang pernah diadakan. Penyertaan yang besar ini membuktikan puisi mampu memainkan peranan sebagai wadah mengukuhkan persahabatan sejagat.
Penyair dari seluruh dunia bukan sahaja sebagai pejuang sastera malah sentiasa berpegang teguh kepada kebenaran dan berani meluahkan melalui karya berbentuk sajak, pantun dan syair.
Pada majlis penutup WCP kali ini, beberapa peserta WCP memukau tetamu hadir dengan dekmalasi puisi dalam bahasa ibunda masing-masing.
Dalam masa yang sama Menteri Besar, Datuk Seri Dr. Zambry Abd Kadir yang juga merupakan seorang penyair turut mendeklamasikan puisi bertajuk Ayahku sebagai memperingati bapa tirinya yang kembali menemui Ilahi pada 5 Jun lalu.
Majlis penutup telah disempurnakan Raja Dr Nazrin bersama Dr Zambry dengan penyerahan bendera WCP kepada tuan rumah yang akan datang, iaitu Peru. Majlis penutup WCP ke-33 itu diadakan serentak dengan perasmian Festival Puisi dan Lagu Rakyat Antarabangsa Pangkor (PULARA) ke-4.
Sepanjang seminggu berlangsungnya kongres itu, peserta telah dibawa melawat beberapa tapak peninggalan sejarah penting negara ini yang terletak di Perak seperti Lenggong, Kuala Sepetang, Gua Tempurung, dan Batu Gajah dan Pulau Pangkor.
Sepanjang kongres tersebut sebanyak 134 hasil karya sasterawan tersohor dari seluruh dunia telah dipersembahkan kepada peserta dan puisi-puisi itu dibukukan dalam Anthology of the 33rd World Congress of Poets.
Sementara itu, penyair Moh Ghufron Cholid dari Indonesia ketika ditemui berkata, kehadirannya di sebuah negeri di Malaysia untuk menjayakan kongres puisi ini memberi pengalaman yang sangat bermakna.
Dengan menyertai WCP, dia boleh berkongsi karya bersama para penyair dari seluruh dunia sambil bertukar-tukar fikiran.
"Budaya di Perak dari pemerhatian saya lain daripada yang saya bayangkan selama ini kerana budaya di sini lebih asli dan penuh dengan pelbagai," katanya.
Bagi penyair tempatan, Salmiah Ismail, Kongres Penyair Sedunia adalah satu peluang besar bagi penyair negara ini berkembang khususnya di Perak sendiri.
"Pengalaman bersama mereka memberi kesan yang sangat baik dan boleh berkongsi ilmu. Walaupun melihat ada sedikit kekurangan dari segi pengurusan acara sempena WCP, Salmiah berkata, ia dapat diterima kerana ini kali pertama sekretariat tempatan menguruskan kongres sebesar WCP.
"Ini kerana saya lihat kebanyakan petugas adalah orang muda dan ini harus diambil peluang untuk menimba ilmu bersama orang lama baik dari segi pengurusan mahupun dalam bidang sastera ini.
"WCP banyak memberi pengalaman kepada saya mengenali sendiri karya dari luar iaitu mungkin selama ini kita hanya mendengar nama mereka. Cuma dari pengamatan saya seharus ada terjemahan karya mereka, sama ada dalam Bahasa Melayu dan Inggeris," ujarnya.

Artikel Penuh: http://ww1.utusan.com.my/utusan/Sastera/20131110/sa_03/Kongres-menyatukan-penyair#ixzz3LJbsA3i9
© Utusan Melayu (M) Bhd

TERBIT SASTRA HARIAN CAKRAWALA (6 DESEMBER 2014)

HUTAN SUNYI

menyusuri hutan sunyi
mengakrabi diri tak bertepi
ada yang semakin berwajah nyeri
ada yang menemukan bentuk haqiqi
yang manusia: fana
yang esa: sempurna

Madura, 26 November 2014

MENYOAL KAMAR HATI

adakah kamar di hatimu
menyemai biru-sedu
yang ranum dari pepadi waktu

adakah kamar di hatimu
mengurai hijau daun
yang membuat segala jalan
menuju bahagia
hingga alamat-alamat duka
yang pernah jadi peta

Madura, 26 November 2014

KEPADA KAWAN BERWAJAH DUKA
: Jumali

bertahun-tahu, ceritamu tertelan
angin pertemukan berwajah duka

menyepuh tualang duhai kawan
dedaun rindu berguguran

kepulangan kerap menandai waktu
dalam debar gerutu

percayalah duhai kawan
waktu, masih bicara ketabahan
menyeleksi seberapa tahan
keikhlasan menempati badan

kematian, tamu yang dirahasiakan
seberapa siap bergegas bermusyahadah
Allah

kau, aku adalah kafan
yang menunggu antrian kencan

Madura, 25 November 2014